22 Kebakaran Terjadi di Cilacap dalam Tiga Bulan, Korsleting Listrik Jadi Penyebab Terbanyak
Cilacap, Jawa Tengah, kembali disorot setelah dalam tiga bulan terakhir tercatat 22 peristiwa kebakaran. Dari jumlah itu, rumah warga mendominasi sebagai objek yang paling sering terdampak. Data dari Damkar Cilacap menunjukkan bahwa persoalan listrik masih menjadi pemicu utama, sementara faktor kelalaian manusia dan kebocoran terkait LPG juga ikut menyumbang kejadian.
Korsleting Listrik Masih Mendominasi
Kepala Bidang Damkar dan Penyelamatan Satpol PP Cilacap, Gatot Arief Widodo, menyebutkan bahwa dari 22 kasus kebakaran, 15 di antaranya dipicu korsleting listrik. Selain itu, ada 6 kejadian akibat human error dan 1 kejadian yang berkaitan dengan gas LPG. Pola ini menunjukkan bahwa sumber risiko kebakaran di permukiman masih berulang pada masalah yang sebenarnya bisa dicegah sejak awal.
Selama periode tersebut, kerugian yang ditimbulkan tidak kecil. Total kerugian ditaksir mencapai Rp654 juta. Satu korban jiwa, seorang lansia, juga dilaporkan meninggal dalam rangkaian peristiwa kebakaran itu. Selain itu, 21 bangunan mengalami kerusakan dengan tingkat dampak yang berbeda-beda.
Pencegahan Diperketat di Lapangan
Menanggapi tingginya angka kejadian, Damkar Cilacap terus menggelar sosialisasi di berbagai wilayah. Pemeriksaan bangunan gedung juga dilakukan secara rutin sebagai bagian dari upaya pencegahan. Langkah ini diarahkan agar masyarakat lebih waspada sebelum api terlanjur membesar dan menimbulkan kerugian yang lebih luas.
Imbauan untuk Warga
Masyarakat diminta memeriksa instalasi listrik secara berkala, tidak menumpuk penggunaan stop kontak, serta memastikan tabung gas LPG dan kompor berada dalam kondisi aman. Damkar Cilacap menilai pencegahan jauh lebih efektif dibanding penanganan setelah kebakaran terjadi. Dengan langkah sederhana yang dilakukan konsisten, risiko kebakaran di wilayah ini diharapkan bisa ditekan.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.
