29.2 C
Jakarta
HomeBeritaPeningkatan Produktivitas Petani Berkat Program Makmur dengan Penggunaan Pupuk Nonsubsidi

Peningkatan Produktivitas Petani Berkat Program Makmur dengan Penggunaan Pupuk Nonsubsidi

Para petani padi dan jagung berhasil meningkatkan produktivitas komoditas tersebut setelah mengikuti Program Makmur yang dijalankan oleh Pupuk Indonesia bersama para BUMN terkait. Meskipun petani yang tergabung menggunakan pupuk non-subsidi yang jauh lebih mahal, mereka tetap mencatat peningkatan pendapatan.

Berdasarkan Laporan Kinerja Program Makmur per 9 November 2023, realisasi program Makmur dengan peningkatan realisasi tanam sudah mencapai 67 persen atau lebih dari 300 ribu hektar yang menjangkau lebih dari 90 ribu petani. Badan Pangan Nasional mencatat, produktivitas tanaman padi petani rata-rata mengalami kenaikan sebesar 13 persen. Selain itu, petani jagung juga mampu menaikkan produktivitas sebesar 12 persen, dan tebu sebesar 3 persen.

Pendapatan petani padi pun meningkat sebesar 13 persen, 15 persen untuk jagung, dan 5 persen untuk tebu. “Lewat Makmur juga terbukti walaupun petani menggunakan pupuk nonsubsidi, penghasilan dan keuntungan mereka bertambah sehingga ikut meningkatkan pendapatannya,” kata Rahmad di Karawang, Jawa Barat, Sabtu (11/11/2023).

Untuk menambah jangkauan dan efektivitas Program Makmur, Pupuk Indonesia meluncurkan dan melantik Taruna Makmur, yakni para mahasiswa dari Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) yang akan bertugas menjadi penyuluh petani. “Nantinya, para Taruna Makmur ini akan memberikan pendampingan budidaya dan memberikan layanan agronomis bagi petani yang bergabung pada Program Makmur,” kata Rahmad.

Kepala Badan Pangan Nasional, Arief Prasetyo Adi menuturkan, ekosistem pangan yang dibangun melalui Program Makmur menjadi program yang membuat ketahanan pangan nasional jadi lebih kuat. Sebab, ekosistem pangan dari hulu ke hilir menjadi sangat baik. Pasalnya, petani mendapatkan pendampingan dari persiapan tanam, proses budi daya, permodalan perbankan, pascapanen, hingga pemasaran. “Dulu di awal-awal kita mulainya 50 ribu hektare, 100 ribu hektare, hingga sekarang bisa mencapai 360 ribu hektar. Itu capaian yang baik yang harus terus kita bangun karena tentunya ini akan dapat memberikan dampak yang kuat bagi ketersediaan pangan,” kata Arief.

Stay Connected
16,985FansLike
2,458FollowersFollow
61,453SubscribersSubscribe
Berita Pilihan
Berita Terkait