Antrean Kendaraan di Pelabuhan Ketapang Menjadi Sorotan GAPASDAP
Antrean panjang kendaraan di lintas penyeberangan Ketapang-Gilimanuk belakangan ini mendapat perhatian serius dari DPP Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (GAPASDAP). Mereka menilai bahwa situasi ini menjadi bukti yang mendesak untuk segera melakukan penambahan kapasitas pelabuhan dan dermaga di lintasan vital yang menghubungkan Pulau Jawa dengan Bali.
Penyebab Kemacetan Bukan Hanya Jumlah Kapal
Ketua Umum DPP GAPASDAP, Khoiri Soetomo, menegaskan bahwa kemacetan yang terjadi bukan semata-mata karena kurangnya jumlah kapal yang beroperasi. Meskipun sudah ada sekitar 56 kapal yang memiliki izin operasi untuk melayani penyeberangan Ketapang-Gilimanuk, namun keterbatasan kapasitas dermaga membuat hanya separuhnya yang dapat beroperasi efisien setiap hari. Sementara sisanya harus bertugas sebagai cadangan, menunggu giliran.
Kondisi Infrastruktur Perlu Ditingkatkan
Menurut GAPASDAP, penyebab utama dari masalah ini adalah keterbatasan infrastruktur pelabuhan yang belum mampu menampung seluruh armada yang siap melayani pertumbuhan kendaraan dan aktivitas ekonomi yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Faktor lain seperti peningkatan volume kendaraan, keterbatasan dermaga untuk kendaraan besar, dan cuaca serta arus laut yang tidak menentu ikut memengaruhi antrean kendaraan saat ini.
Kondisi ini semakin diperparah dengan kurangnya area penyangga kendaraan dan kapasitas jalan yang semakin terbebani oleh meningkatnya lalu lintas kendaraan di sekitar Pelabuhan Ketapang. Dampak dari arus kendaraan menuju Pelabuhan Tanjungwangi juga menjadi salah satu faktor peningkatan kepadatan di sekitar wilayah Pelabuhan Ketapang. Dengan hanya dua kapal yang melayani rute Tanjungwangi-Lembar, jauh berkurang dari sebelumnya yang mencapai empat kapal.
