29.2 C
Jakarta
HomeBeritaDari Percobaan Menjadi Kegilaan, Permintaan Pesanan Untuk Produsen Keripik Tempe Diwek Jombang...

Dari Percobaan Menjadi Kegilaan, Permintaan Pesanan Untuk Produsen Keripik Tempe Diwek Jombang Meningkat

Fitur
Berawal dari Coba-coba, Produsen Keripik Tempe dari Diwek Jombang Kini Kebanjiran Order

Imroatus saat memasukkan keripik tempe untuk dikemas dan dipasarkan kepada pelanggan, Jumat (27/10/2023).( Foto :Gono Dwi Santoso/Suaraindonesia.co.id).

JOMBANG, Suaraindonesia.co.id – Imroatus Solihah tidak menyangka bahwa produksi keripik tempe-nya belakangan ini malah kebanjiran pesanan.

Lima tahun yang lalu, warga Dusun Canggon, Desa Ngudirejo, Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang ini memulai dengan coba-coba.

“Jadi waktu itu hanya mencoba-coba. Ternyata ketika jadi, hasilnya bagus dan banyak yang menyukainya. Jadi saya melanjutkannya sampai sekarang dan semuanya adalah keripik tempe, dan semua diproduksi di sini, saya sendiri yang membuatnya,” jelas Imroatus kepada Suaraindonesia.co.id, Jumat (28/10/2023).

Imroatus menjelaskan bahwa proses produksinya, mulai dari menggoreng, mengemas dilakukan di rumahnya. Dimulai dari proses pembuatan tempe sebagai bahan dasarnya.

“Yang membuat tempenya adalah adik saya, lalu saya mengambilnya, tetapi tidak bisa langsung digunakan,” lanjutnya.

Imroatus mengatakan bahwa cara membuat keripik tempe harus dicampurkan terlebih dahulu dengan tepung kanji, untuk menambah tekstur dalam olahan keripik nanti. Tempe yang baru dibuat harus didiamkan selama tiga hari. Setelah itu baru siap diproses.

“Setelah tempe jadi, kemudian diiris tipis-tipis, dan tidak boleh langsung digoreng, harus didiamkan dulu selama 10 menit di kulkas setelah cukup waktu,” tambahnya.

Imroatus mulai menggoreng keripiknya. Sebelum dimasukkan ke minyak panas, keripik tersebut harus dicelupkan ke dalam air yang sudah diberi bumbu, tentunya untuk memberi rasa pada keripik buatannya,” terangnya.

Imroatus menambahkan bahwa dalam satu hari dia bisa memproduksi hingga 2 kilogram tempe. Produk tersebut biasanya dia jual ke sejumlah warung kopi dan juga menggunakan pasar online.

“Kalau ke warung biasanya kemasan kecil, dengan harga Rp1 ribu hingga Rp2 ribu. Kalau untuk online, ukurannya lebih besar, ada yang ¼ kilogram, ada juga yang 1 kilogram. Harganya Rp 60 ribu untuk setiap 1 kilogram,” tambahnya. (*).

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Gono Dwi Santoso
Editor : Danu Sukendro

Stay Connected
16,985FansLike
2,458FollowersFollow
61,453SubscribersSubscribe
Berita Pilihan
Berita Terkait