Tips Manasik Umrah di Malang: Gus Iqoxs Ingatkan Pentingnya Ibadah
Manasik umrah di Malang tidak hanya menjadi ajang simulasi teknis, tetapi juga pengingat bahwa perjalanan ke Tanah Suci adalah ibadah yang menuntut kesiapan lahir dan batin. Pesan itu mengemuka saat Gus Iqoxs El Khoir memberikan materi manasik umrah di Wijaya Hall Room Hamur Pedas, Minggu (8/2/2026), kepada puluhan calon jemaah umrah dari grup Sorban Makadinah.
Manasik Bukan Sekadar Simulasi
Dalam kegiatan intensif tersebut, Gus Iqoxs menekankan bahwa manasik tidak boleh dipandang sebagai agenda formalitas sebelum berangkat. Menurutnya, calon jemaah perlu memahami makna di balik setiap rangkaian ibadah umrah, mulai dari tawaf, sa’i, hingga tahalul. Pemahaman ini dinilai penting agar jemaah tidak hanya tahu urutan praktik, tetapi juga mengerti filosofi dan tujuan ibadah yang dijalankan.
Ia juga membimbing jemaah untuk melatih kemandirian saat berada di Tanah Suci. Harapannya, para peserta tidak bergantung penuh pada pembimbing, melainkan mampu menjalankan ibadah dengan tenang dan percaya diri. Karena itu, manasik diarahkan agar menjadi bekal nyata, bukan sekadar materi yang lewat begitu saja.
Latihan Fisik, Kesehatan, dan Kondisi Terkini
Selain pemahaman ibadah, jemaah juga mendapat simulasi tawaf dan sa’i. Latihan ini bukan hanya untuk mengenalkan praktik lapangan, tetapi juga melatih ketahanan fisik sebelum menghadapi rangkaian ibadah yang cukup menguras tenaga. Dalam sesi itu, jemaah turut diberi gambaran mengenai kondisi terkini di Arab Saudi serta hal-hal kesehatan yang perlu diperhatikan selama perjalanan.
Bekal seperti ini dianggap penting agar jemaah bisa menyesuaikan diri sejak awal. Dengan persiapan yang lebih matang, mereka diharapkan lebih siap menghadapi ritme ibadah, cuaca, dan aktivitas harian selama berada di Tanah Suci.
Menjaga Kekompakan Rombongan
Gus Iqoxs juga menyoroti pentingnya kebersamaan antara jemaah dan petugas pendamping. Menurut dia, manasik menjadi ruang untuk membangun rasa saling mengenal, saling menjaga, dan memperkuat solidaritas dalam satu rombongan. Kekompakan semacam ini dinilai mampu menciptakan rasa aman selama perjalanan ibadah.
Ia berharap seluruh jemaah mengikuti manasik dengan sungguh-sungguh agar keberangkatan ke Tanah Suci tidak berhenti pada urusan ikut rombongan semata. Lebih dari itu, mereka diharapkan berangkat dengan ilmu yang cukup, hati yang tenang, dan kesiapan untuk menjalankan umrah secara lebih bermakna.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.
