Fakta Memilukan di Balik Temuan Jasad Bayi di Sungai Banyuwangi
Penemuan jasad bayi laki-laki di Sungai Kembiritan, Genteng, Banyuwangi, ternyata menyisakan gambaran yang lebih kelam setelah pemeriksaan forensik dilakukan. Bagi kepolisian, kasus ini bukan sekadar soal penemuan jenazah, melainkan awal dari upaya mengurai bagaimana bayi malang itu bisa berakhir di sungai dalam kondisi mengenaskan. Hasil otopsi di RSUD Blambangan memberi petunjuk awal yang membuat penyelidikan bergerak ke arah yang lebih serius.
Hasil Otopsi Buka Petunjuk Awal
Kasatreskrim Polresta Banyuwangi mengungkapkan bahwa dokter forensik menemukan bayi tersebut belum sempat mendapatkan asupan makanan. Dari pemeriksaan itu juga diperkirakan jasad berada di dalam air selama satu hingga dua hari sebelum ditemukan. Temuan ini menjadi titik penting bagi penyidik untuk menelusuri urutan kejadian, mulai dari sebelum bayi itu diduga dibuang hingga akhirnya ditemukan di aliran sungai.
Ditemukan Saat Pulang Memancing
Kasus ini terbongkar ketika seorang remaja bernama Fendi pulang dari memancing dan melihat jasad bayi tersebut. Kondisi yang sangat memprihatinkan membuat Fendi segera melapor kepada pihak berwenang. Laporan itu langsung ditindaklanjuti oleh tim Polsek Genteng yang mendatangi lokasi untuk melakukan evakuasi. Setelah dievakuasi, jasad bayi dibawa ke RSUD Blambangan untuk pemeriksaan lanjutan.
Di tahap ini, polisi mulai menghubungkan keterangan di lapangan dengan hasil otopsi. Langkah tersebut penting untuk memastikan apakah ada unsur tindak pidana dalam peristiwa ini, sekaligus memperjelas kapan bayi itu kemungkinan besar masuk ke sungai.
Polisi Telusuri Identitas Orang Tua
Hingga kini, penyidik masih mendalami identitas orang tua maupun pihak yang diduga membuang jasad bayi laki-laki tersebut. Polisi juga membuka ruang bagi siapa pun yang memiliki informasi agar dapat membantu proses pengungkapan kasus. Penelusuran terus dilakukan, sebab temuan ini bukan hanya menyisakan duka, tetapi juga pertanyaan besar tentang siapa yang bertanggung jawab atas nasib bayi itu.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.
