Pemberian penghargaan kepada BPRS Bhakti Sumekar dalam puncak Hari Pers Nasional (HPN) 2026 dan HUT ke-80 PWI bukan sekadar seremoni. Apresiasi dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumenep itu menegaskan satu hal penting: literasi perbankan kini dipandang sebagai kebutuhan mendesak di tengah perubahan perilaku ekonomi masyarakat, terutama saat layanan keuangan makin bergeser ke ranah digital.
Apresiasi untuk Peran Edukasi Keuangan
BPRS Bhakti Sumekar dinilai konsisten mendorong masyarakat Kabupaten Sumenep agar lebih memahami pengelolaan keuangan yang sehat. Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk pengakuan atas komitmen lembaga keuangan itu dalam memperluas literasi perbankan sekaligus mendorong inklusi keuangan. Upaya ini dinilai penting karena akses terhadap layanan keuangan tidak cukup hanya dibuka, tetapi juga harus diiringi dengan pemahaman yang memadai agar masyarakat merasa aman dan percaya saat menggunakannya.
Ketua PWI Sumenep, Faisal Warid, menilai peningkatan literasi keuangan memiliki pengaruh langsung terhadap pembangunan daerah. Menurut dia, pemahaman yang baik tentang produk dan layanan perbankan dapat membantu pelaku UMKM maupun sektor informal mengambil keputusan finansial yang lebih tepat. Dalam pandangannya, kemandirian ekonomi masyarakat tidak bisa dilepaskan dari kemampuan mereka mengenali manfaat sekaligus risiko dalam pengelolaan uang.
Kolaborasi Jadi Kunci di Era Digital
Warid juga menekankan bahwa kerja sama antara media, lembaga keuangan, dan pemerintah daerah menjadi fondasi penting dalam membangun masyarakat yang cerdas secara finansial. Di tengah derasnya arus digitalisasi, edukasi publik tidak lagi bisa berjalan sendiri-sendiri. Peran media dibutuhkan untuk menyampaikan informasi secara luas, sementara lembaga keuangan dan pemerintah daerah berfungsi memastikan masyarakat mendapatkan akses serta pendampingan yang tepat.
Di sisi lain, Direktur BPRS Bhakti Sumekar, Hairil Fajar, menyampaikan rasa syukur atas penghargaan yang diterima lembaganya. Ia menegaskan bahwa literasi keuangan bukan sekadar program tambahan, melainkan tanggung jawab moral yang terus mereka jalankan sebagai bagian dari transformasi digital perusahaan. Melalui sosialisasi langsung, pendampingan usaha, hingga pemanfaatan platform digital, BPRS Bhakti Sumekar berupaya mendekatkan layanan sekaligus membangun pemahaman masyarakat terhadap produk keuangan.
Digitalisasi untuk Perluas Akses Layanan
Menurut Hairil, digitalisasi layanan diarahkan untuk menciptakan efisiensi, meningkatkan transparansi, dan memperluas jangkauan pelayanan, terutama bagi masyarakat yang selama ini sulit mengakses perbankan. Dengan pendekatan itu, BPRS Bhakti Sumekar berharap kehadiran layanan keuangan tidak berhenti pada kemudahan transaksi, tetapi juga ikut menguatkan ekosistem ekonomi lokal.
Di Sumenep, langkah semacam ini dipandang relevan karena masih banyak lapisan masyarakat yang membutuhkan pendampingan sebelum benar-benar memanfaatkan layanan keuangan formal. Karena itu, penghargaan dari PWI Sumenep menjadi penanda bahwa literasi perbankan bukan lagi isu pelengkap, melainkan bagian dari strategi memperkuat daya tahan ekonomi daerah.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.
