Petani di Kabupaten Bondowoso mendapat kabar yang cukup melegakan jelang musim tanam 2026. Setelah sosialisasi penyaluran pupuk bersubsidi digelar, pemerintah pusat melalui PT Pupuk Indonesia (Persero) memastikan alokasi pupuk subsidi untuk Bondowoso mengalami peningkatan. Kabar ini menjadi penting di tengah kebutuhan petani yang selama ini masih bergantung pada kelancaran distribusi pupuk agar produktivitas tetap terjaga.
Serapan 2025 Tinggi, Kebutuhan Masih Jadi Catatan
Dalam kegiatan sosialisasi tersebut, Manajer Jatim 3 PT Pupuk Indonesia, Sri Purwanto, menjelaskan bahwa serapan pupuk bersubsidi di Bondowoso sepanjang 2025 tergolong tinggi. Namun, ia juga menegaskan bahwa alokasi tahun sebelumnya belum sepenuhnya mampu menutup kebutuhan yang tercantum dalam Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok atau RDKK. Kondisi ini menunjukkan bahwa distribusi pupuk masih menjadi isu krusial bagi petani di daerah itu.
Urea dan NPK Naik untuk 2026
Untuk tahun 2026, Bondowoso mencatat tren kenaikan alokasi pupuk bersubsidi, terutama pada jenis urea dan NPK. Peningkatan ini diharapkan dapat memberi ruang lebih besar bagi petani dalam memenuhi kebutuhan tanam, sekaligus mengurangi kekhawatiran soal ketersediaan pupuk di lapangan. PT Pupuk Indonesia menekankan bahwa penyaluran harus berjalan lebih optimal, tertib, dan tepat sasaran sesuai ketentuan yang berlaku.
Sinergi Jadi Kunci Penyaluran
Perusahaan juga menyoroti pentingnya kerja sama antara pemerintah daerah, distributor, kios resmi, dan petani agar distribusi pupuk subsidi tidak tersendat. Dengan sinergi yang kuat, manfaat program subsidi diharapkan benar-benar dirasakan oleh petani yang berhak. Di Bondowoso, peningkatan alokasi ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan harapan agar musim tanam 2026 bisa berjalan lebih tenang dan terencana.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.
