23.4 C
Jakarta
HomeBeritaGapki Ungkap Penyebab Penurunan Harga Kelapa Sawit di Tahun 2023

Gapki Ungkap Penyebab Penurunan Harga Kelapa Sawit di Tahun 2023

Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Eddy Martono, mengatakan bahwa kinerja industri kelapa sawit pada tahun 2023 tidak lebih baik daripada tahun sebelumnya. Dalam hal harga, tahun ini tidak sebaik tahun 2022.

Namun, Gapki memperkirakan bahwa harga kelapa sawit akan meningkat atau “bullish” pada tahun 2024. Salah satu faktor yang memengaruhi harga kelapa sawit tersebut adalah El Nino yang terjadi tahun ini, yang akan memengaruhi produksi tahun depan.

Eddy mengungkapkan bahwa Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar mengalami stagnasi produksi dalam beberapa tahun terakhir. Ini disebabkan oleh lambatnya kemajuan dalam penanaman kembali oleh petani kecil. Meskipun pemerintah akan terus menerapkan B35 dan meningkatkan konsumsi pangan dan industri dalam negeri, stok minyak sawit Indonesia dipastikan akan rendah.

Dalam beberapa bulan terakhir, Gapki telah melihat penurunan harga minyak sawit global karena melemahnya daya beli akibat perlambatan ekonomi di berbagai negara dan melimpahnya stok di berbagai negara produsen. Ancaman krisis pangan dan energi serta hambatan perdagangan dari negara importir, seperti EUDR, membuat ketidakpastian semakin meluas.

Eddy berharap pemerintah Indonesia dapat mengambil langkah-langkah yang bijaksana untuk menjaga daya saing industri kelapa sawit Indonesia dengan memperkuat produksi minyak sawit berkelanjutan dan tidak mengeluarkan peraturan yang kontraproduktif serta memperjuangkan perdagangan bebas dan adil tanpa hambatan perdagangannya.

Informasi yang disampaikan, produksi kelapa sawit Indonesia hingga Agustus 2023 mencapai 36,3 juta ton dengan ekspor termasuk biodiesel dan oleokimia sebesar lebih dari 23,4 juta ton. Ini memberikan kontribusi sekitar 20,6 miliar dolar AS terhadap devisa Indonesia. Sementara itu, produksi Crude Palm Oil (CPO) pada tahun 2022 sebesar 46,729 juta ton, yang lebih rendah dari produksi tahun 2021 sebesar 46,888 juta ton.

*Sumber: Republika*

Stay Connected
16,985FansLike
2,458FollowersFollow
61,453SubscribersSubscribe
Berita Pilihan
Berita Terkait